Bahagia di Hari Tua : Menua Bersamamu

Advertisement

9 Januari 2017,

Dear mami serigala, Mi aku kirim tulisan ntar tolong ya dibikin bagus buat pengingatku. Makasih, muacch…

Pesan manis ini ada di badan email yang dikirimkan oleh pak suami tersayang dan terganteng se Asia Tenggara. Bersama dengan pesan itu terlampir juga ‘surat’ kecil yang berisi daftar target kehidupan masa depan keluarga yang sempat saya dan suami diskusikan malam sebelumnya.

Jadi, sebagai Chef, yang bekerja di sektor swasta dan tentunya tidak memiliki jaminan pensiun layaknya pegawai pemerintahan, kami sadar betul kalau kami harus mulai menyusun kehidupan untuk 10 atau 15 tahun mendatang sejak hari ini. Kebetulan, saya dan suami punya cita-cita yang kurang lebih senada. Pensiun dini. Untuk apa? Untuk menikmati hidup donk…

Keluarga adalah hal terbaik dalam hidup

Keluarga adalah hal terbaik dalam hidup

Nggak ada tuh di benak saya membiarkan suami kerja keras setengah mati dari Subuh sampai Maghrib seperti yang beliau kerjakan sekarang. Selain tak tega dengan kesehatan dan fisik suami yang diforsir saya pun tak rela jika anak-anak tumbuh besar dengan ‘jatah bertemu’ ayahnya sebanyak 2-3 jam setiap hari kerja. Bahkan seringkali merelakan waktu libur untuk ‘menyerahkan’ ayah mereka pada hotel yang sedang ramai. Nggak rela gitu rasanya melihat anak-anak saya memandang si Ayah berangkat kerja dengan menggigit ujung bibir atasnya, demi menahan rindu.

Membangun Mimpi Masa Depan

Kegelisahan itu pun saya sampaikan pada suami yang kemudian berbalas dengan email manis tersebut. Sebelum saya mulai menceritakan tentang cita-cita kami, saya perlu meluruskan niat dulu. Landasan target kehidupan kami akan berangkat dari hadist berikut :

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أربع من السعادة : المرأة الصالحة والمسكن الواسع والجار الصالح والمركب الهنيء وأربع من الشقاوة : الجار السوء والمرأة السوء والمسكن الضيق والمركب السوء

“Ada 4 yang mendatangkan kebahagiaan: istri shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan ada 4 yang mendatangkan kesusahan: tetangga yang jahat, istri yang jahat, rumah yang sempit, dan kendaraan yan tidak nyaman dipakai.” (HR. Ibnu Hibban 4032 dan sanad dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Sumber: https://muslimah.or.id/8246-wanita-yang-berkah-kamukah-itu.html

Ada tiga poin dalam hadist tersebut yang akan kami wujudkan bersama. Kita mulai bahas satu-satu yaa…

♥ Istri Shaliha :

Istri yang sholiha, sebenernya poin ini harusnya saya abaikan. Bully-able banget tahu nggak sih poin ini. Untungnya saya pernah sharing tentang usaha saya untuk mewujudkan cita-cita sebagai istri sholiha. Bisa dibaca di blogpost yang ini nih : Indikator Perempuan Profesional.

♥ Kendaraan yang Nyaman :

Kendaraan yang nyaman untuk saya dan anak-anak adalah fasilitas yang suami saya paling ingin wujudkan dalam satu hingga tiga tahun ini. Suami berharap fasilitas ini kelak akan mendukung aktivitas saya dan anak-anak secara maksimal.

Aktivitas saya, kakak Aila, dan adek Pandan

Aktivitas saya, kakak Aila, dan adek Pandan

♥ Tempat Tinggal yang Luas :

Tempat tinggal yang luas diharapkan dapat diwujudkan dalam lima hingga tujuh tahun dari sekarang. Ada kesepakatan yang pernah kami buat terkait pembelian rumah ini. Saya meminta pada suami untuk tidak membelinya dengan cara cicilan atau KPR seperti yang banyak dilakukan oleh rekan sejawat. Kami berdua ingin mulai membangun tempat tinggal dengan idealisme tentang ‘rumah ideal’ yang tentunya akan sangat sulit diwujudkan dengan kapling perumahan yang terbatas. Ada dua syarat utama yang akan kami terapkan untuk rumah kami kelak yaitu, dapur yang ideal untuk beliau, dan perpustakaan yang bagus untuk saya. Lainnya? Saya dan suami mau punya rumah yang sejuk, dengan pohon buah, serta kehidupan pedesaan yang asri.

http://kampoengbamboe.com/wp-content/themes/striking2/cache/images/2780_rumah-sawah-kebun-960x440.jpg

http://kampoengbamboe.com/wp-content/themes/striking2/cache/images/2780_rumah-sawah-kebun-960×440.jpg

Cita-cita kami tentang rumah inilah yang kemudian menjadi titik tolak kehidupan masa tua yang ingin kami jalani. Seperti apakah itu?

Bahagia di Hari Tua, Ijinkan Aku Menua Bersamamu…

Setelah puas berkarir sebagai Chef di industry hospitality, suami saya ingin menghabiskan hidupnya dengan menjadi pengajar. Berbagi ilmu memasak yang saat ini sudah beliau tekuni selama kurang lebih sembilan tahun.

“Aku bayangin berangkat pagi ke sekolah, naik vespa, ngajar, pulang siang. Sorenya masih sempat ngopi sama makan pisang goreng sambil duduk di saung,” ujar suami syahdu.

“Aku ikut!” saya nyamber.

“Ikut kemana?” suami naikin alis.

“Ikut ngajar!” saya bales ngotot.

“Ngapaiiiinn???” suami makin panik.

“Ya nggak papa sih…. Terus aku ngapain di rumah?” saya makin maksa.

“Ngurusin bisnislah!” Suami ngeles.

“Nggak maulah, kan ada karyawan. Aku mau ikutlah sama Papi… Titik!” saya tetep kekeuh.

“……….” Suami nggak jawab, nyari aman.

Oke percakapan rumah tangga itu memang terkadang suka bikin mudah terhanyut. Belum kejadian aja udah menghayati banget dramanya.

Balik ke impian masa tua, saya sendiri pengeennn banget punya farm house yang apik. Saya ingin menghabiskan hari-hari dengan memetik sayuran segar dari kebun sendiri, masak ikan segar yang dipancing langsung dari kolam, mengupas buah yang matang pohon di halaman rumah, lalu duduk santai di dangau yang ada di teras belakang. Damai banget ya rasanya… Tentunya itu saya lakukan setelah nemenin suami ngajar #tetep.

http://beritapertanian.xyz/wp-content/uploads/2016/03/Berkebun-Di-Halaman-Rumah-Agar-Lebih-Maksimal-500x333.jpg

http://beritapertanian.xyz/wp-content/uploads/2016/03/Berkebun-Di-Halaman-Rumah-Agar-Lebih-Maksimal-500×333.jpg

Nah, untuk mewujudkan itu tentu saja saya dan suami harus beneran rajin menabung. Meskipun saya tahu bahwa rejeki manusia sudah mendapatkan jaminan dari Allah SWT namun sebagai manusia dengan kadar keimanan yang naik turun macam jungkat-jungkit, saya pun masih sering deg-degan juga. Membayangkan bagaimana nanti kehidupan di hari tua kami. Jaminan hari tua macam apa yang akan membantu kami mewujudkan mimpi-mimpi itu?

Tenang di Hari Tua, Menyiapkan Dana Pensiun

Saya sendiri tidak memiliki premi asuransi selain dari BPJS Kesehatan yang merupakan tunjangan dari kantor suami. Selain memang tidak berniat mendaftar ke perusahaan asuransi konvensional. Ada banyak sekali alasan yang tak bisa saya kemukakan disini. Namun untuk dana pensiun, mau tak mau itu harus masuk ke daftar perhatian saya dan suami.

 

Ada beberapa cara yang kemudian saya lakukan untuk menyiapkan dana pensiun kami. Salah satu bentuk investasi yang saya pilih adalah dengan menabung logam mulia. Selain itu, saya juga mencari informasi mengenai jaminan kerja yang dimiliki oleh suami. Sebagai karyawan swasta, suami diwajibkan memiliki BPJS Ketenagakerjaan yang pendaftarannya diurus oleh perusahaan. Awalnya, saya nggak begitu peduli sih soal beginian sampai kemudian suami saya terkena serangan stroke pada April 2016.

13063408_10207872335345319_5329538234106695741_o

Suami menjalani CT Scan saat mengalami serangan stroke

Baca Juga : Menabung Logam Mulia.

 

Bohong kalau saya bilang saya nggak khawatir. Saya punya dua balita, yang satu bahkan belum genap berusia satu tahun ketika suami saya terkena serangan. Berbagai rasa berkecamuk di hati. Saya mulai sibuk bertanya “Gimana nanti kehidupan kami?”, “Gimana biaya sekolah anak-anak?”, “Gimana ini, gimana itu?”. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak saya waktu itu. Tak sampai hati saya membayangkan jika suami saya sebagai kepala keluarga menghadapi halangan hidup yang membuat kami terpisah. Lalu untuk meredakan galau di hati saya pun mencari tahu. Ada dua hal yang menurut saya penting untuk kita pahami dalam kasus ini. Pertama : tentang santunan kematian. Kedua : jaminan dana pensiun. Syukurlah, BPJS Ketenagakerjaan yang digunakan oleh kantor suami mampu memfasilitasi keduanya.

Menua Bersamamu

Menua Bersamamu

 

Saat ini, setidaknya, saya sudah nyicil ayem. Hari tua untuk saya dan suami sedang kami persiapkan. Semoga dengan baik dan benar.

 

9 Comments
  • Nur Islah
    Februari 10, 2017

    semoga bahagia terus sampai mau memisahkan ya mba. btw good luck lombanya 🙂

    • Destila Dee
      Februari 10, 2017

      hahaha ini pas kebetulan emang mau posting tentang masa tua kok ada lomba sejenis hahaha sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Aamiin makasih doanya mbak ^^

  • Feriyana sari
    Februari 10, 2017

    Keren mbak tulisannya. Jadi minder saya. Belajar banyak setelah baca ini. Salam kenal.

    • Destila Dee
      Februari 11, 2017

      Minder knpa mbak, cuma curhat kok ;D

  • Noni Rosliyani
    Februari 10, 2017

    Aminn yaa..
    Semoga keluarga kita diberi kesehatan sampai tua nanti. Dan kita bisa mendampingi anak2 kita sampai dewasa kelak.

    🙂

  • Kartika Nugmalia
    Februari 11, 2017

    Huhuuu…pasangan yang romantis dengan caranya sendiri ya maaak.
    Saluut sama kaliaaan 😘

    • Destila Dee
      Februari 11, 2017

      Hihihi salah satu ‘ikhtiar’ menjaga ‘cinta’ mak 😀

  • Ardiba
    Februari 11, 2017

    Maakk..gudlak ya..sehat2 semua dan semoga tercapai cita2nya…

    • Destila Dee
      Februari 11, 2017

      Aamiin mak aamiin… Makasih sudah mampirrr :*

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *