Surat Cinta Untuk Kesayangan

Advertisement

Surat cinta untuk suami

Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh…

 

Hai Pak Suami, apa kabar?

Nggak terasa ya sudah 12 tahun sejak kita ketemuan di Mall yang itu tuh. Mall-nya anak gaul Jogja pada waktu itu. Sebulan dari pertemuan di Mall, kita dua detikan dan janjian untuk jalan bareng ke Mandala Krida, nonton breakdance! Ya Allah, aku dandan cantik dan rapih buat diajakin panas-panasan di lapangan?! Ter-la-lu! Sayangnya dulu kita belum kenal istilah ta’aruf. Jadi, apa yang kita tempuh bertahun-tahun sebelum akad sah, meski indah, jelas tidak dalam koridor ridho-Nya. Ah sedih…

 

Tapi, sudahlah ya yang lalu kan tak bisa diubah. Sekarang yang ada hanyalah rasa syukur karena meski tak selalu mulus namun kita masih terus bergandengan tangan. Masih saling menggenggam satu sama lain setelah jatuh bangun berkali-kali kaya lagu dangdut. Setiap kulihat wajah suamiku, aku bersyukur Allah telah menjawab mimpi-mimpi masa kecilku. Mimpi untuk mengenal satu orang saja dan menikah, termasuk cita-cita untuk punya suami tampan, tinggi, dan berkulit putih. Alhamdulillah ya…

 

Mamak Serigala sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk jadi manusia yang visioner bahkan sejak dia masih TK.

993849_10204358411835117_2470222733554698077_n

Berjalan bersamamu, pi, membuatku makin sadar kalau dunia itu indah bahkan dalam detik-detik sederhana. Seperti saat melepasmu setiap pagi atau saat menyambutmu pulang setiap lepas senja. Melihatmu dikelilingi oleh anak-anak yang rindu ayahnya dengan senyum sumringah. Melihatmu menggendong keduanya bergantian meski peluh setelah menjemput rizki belum juga kering.

PhotoGrid_1455604204005

Papi, terima kasih untuk berkenan menjadi ayah yang baik bagi putri-putri kecilku. Berkenan mengganti popok mereka saat pup, mengganti bajunya walaupun sering nggak matching, dan menjaga mereka saat aku harus mengejar mimpi. Terima kasih juga sudah menjadi cinta pertama bagi anak-anak gadisku, meski itu berarti menggeser posisiku ke planet tak bertuan. Manalah aku bisa duduk manja disebelahmu tanpa harus berebut dengan anak-anak. Aku harus rela ‘babak belur’ dulu untuk bisa dapat posisi istimewa itu.

PhotoGrid_1465809291132

Tapi aku rela kok mlipir setiap hari di pojokan karena kalah suara, kalau itu berarti aku mendapatkan laki-laki yang akan dibanggakan anak-anakku sampai saat mereka dewasa kelak. Laki-laki yang akan menjadi benteng bagi anak-anak gadisku agar teguh dalam menjaga diri dari gombalan laki-laki iseng hidung belang kurang kerjaan saat mereka beranjak besar nanti. Laki-laki yang akan dikenang anak-anakku sebagai ayah hebat yang lembut hati. Laki-laki yang luwes nggendong anak pakai jarik bahkan disaat Si Ibu lebih memilih gendongan modern karena tak pernah bisa nggendong pake jarik dengan bener.

 

Terima kasih juga untuk mempercayakan banyak hal denganku. Tak hanya berbagi mimpi, tapi juga berbagi hidup. Ah terlalu banyak hal hebat dan manis tentangmu Pi. Sayang aku pernah baca artikel yang isinya menyatakan bahwa jangan terlalu banyak berbagi kebaikan suami di media sosial karena bisa membuat perempuan lain iri dan jatuh cinta. Jadi, cukuplah aku saja yang tahu sisanya. Bahaya kalau sampai ada perempuan lain yang ingin berebut perhatianmu juga. Bahaya untuk perempuan itu maksudnya. Dia belum tahu bagaimana mamak serigala kalau sudah berubah bentuk di malam bulan purnama, bisa kelar hidupnya kalau mau nyari masalah sama saya.

 

Btw, papi, masih ingat nggak vespa ndog tahun 73 yang sempat antar kita jalan-jalan selama kurang lebih satu tahun itu? Iya vespa yang dijual pas habis papi putusin aku ituuuu! Sekarang harga vespanya udah 20 juta lho pi… Nyesel kan dijual? Huaahahahaha… Sukur! Wakakakakakakakakaka!

Menua Bersamamu

Menua Bersamamu

Surat cinta untuk anak-anakku

Dear Aila Gendhis Wijaya

IMG_20160704_193927

Assalamualaikum kakak Aila…

Kakak lagi sakit ya kak? Sedih kak mami kalo lihat kakak sakit. Kakak kalau sakit maunya cuma tiduran aja. Makan susah, ngapa-ngapain gak semangat. Kakak cepat sembuh ya, biar kita bisa main-main lagi. Belajar sama-sama lagi.

 

Kak, tahu nggak kenapa kakak mami kasih nama Aila? Nama Aila itu artinya “pembawa cahaya” kak. Persis seperti itulah yang terjadi bersamaan dengan keberadaan kakak. Kakak itu seperti cahaya, bersedia menerangi kegelapan sehingga jalan yang dulu tertutup saat ini makin tampak jelas di mata. Jalan menuju ridho-Nya Allah.

 

Kakak itu anak yang lembut hati, aktif, dan perasa. Sebagai anak pertama kakak mampu berdiri kokoh dan tangguh menghadapi adek Pandan. Kakak tak membalas saat adek usil jambakin rambut kakak meski air mata berderai menahan sakit. Padahal dengan badan yang jauh lebih besar dari adek gampang aja lho kak kalau kakak mau bales, tapi enggak tuh. Kasih sayang kakak ke adek luar biasa! Tak heran kalau kemudian adek lebih senang memelukmu kak, menciummu, dan memegang erat kaki kakak dibandingkan mami. Buat adek, kakak itu heronya! Macam nak ultraman ribut itulah kak…

PhotoGrid_1469593998687

Kak, ada banyak kesalahan mami yang mungkin menorehkan luka di kenangan masa kecilmu. Maafkan mami ya kak yang kerap melontarkan ujaran kebencian, melemparkan ketidakmampuan mami sebagai seorang ibu dengan menyalahkanmu. Meski begitu setiap hari tak ada hentinya kakak memeluk mami dan bilang “Aila sayang Mami”. Kamu memang pembawa cahaya nak, lautan maafmu tak mengenal lelah membasuh segala kesalahan ibumu ini. Maafkan mami ya nak untuk segala khilaf yang berulang.

 

Kamu gadis kecil tangguhku, yang selalu berdiri di atas kebenaran. Kamu gadis kecil pemberani yang sanggup bilang “Pulang kalian!” Ke teman-teman usil yang menyembunyikan sandal teman lainnya. Lalu kamu sibuk membantu temanmu mencari sandalnya sampai ketemu. Tapi kamu itu tulus hati kak, ketika teman-teman ‘usil’mu tadi datang dan minta maaf kamu cuma senyum manis sambil bilang “ya” lalu asyik bermain sepedaan lagi bersama.Tak ada dendam yang kau sisakan di hati.

 

Kamu anak kecil populer, yang bikin mami papi takjub karena dikenal mulai dari blok depan sampai belakang. Bahkan cuma kamu kak yang disapa pas kita makan angkringan bareng. Kamu hadir untuk melengkapi Mami, Nak. Kamu hadir untuk meluluhkan Mami. You’ve done it well! Terima kasih ya kak untuk tidak pernah menyerah ‘menghadapi’ mamimu ini. I love you kakak Aila! So much!

 

Dear Pandan Kalyanaisya Wijaya

IMG_20170111_121057

Assalamualaikum adek Pandan….

 

Anak sayangnya mami, yang santai banget kaya di pantai. Anak cerdasnya mami yang belajar lebih cepat dari usianya. Anak cintanya mami yang mau diajak naik gunung mendaki lembah kaya Ninja Hatori tapi masih bisa cengengesan bahagia.

 

Terima kasih untuk selalu setia menunggui ibumu tadarus tanpa menyela bahkan meski kau ingin sekali minum asi. Terima kasih untuk sikap manismu yang kau tunjukkan tanpa kata. Terima kasih untuk selalu mencariku dan memuaskan perasaan ‘ingin diakui’ yang kerap melanda ibumu. Terima kasih telah memberi warna yang berbeda selama 18 bulan ini. Keberadaanmu, Nak, melengkapiku!

IMG_20161219_054453

Catatan untuk diriku sendiri…

Jangan berhenti belajar, karena anak-anak istimewamu butuh Ibu yang cerdas untuk membimbing mereka. Dunia ini sudah gila dee, mereka butuh ibu yang bersedia menghabiskan sisa waktunya untuk mengejar ilmu, bukan ilmu dunia saja, tapi juga ilmu langit. Mereka butuh ibu yang mampu berjaga saat akhir zaman makin dekat. Bukan ibu yang biasa-biasa saja. Jangan berhenti tangguh, karena suamimu butuh kaki yang kuat untuk menjaganya tetap berjalan di jalur-Nya. Jangan pula berhenti berdoa karena hanya Allah yang mampu menjaga. La haula wala quwwata illa billah…

 

Catatan untuk hari-hari…

Tak ada satu pun rencanaMu yang kuragukan bahkan ketika aku harus berjibaku dengan air hujan yang menerpa masuk lewat celah-celah atap dan membanjiri seisi rumah. Itu adalah ilmu sabar dan ikhlas. Tak ada satu hikmahpun yang terlewat kecuali karena aku lalai… Termasuk saat kulihat sekelilingku tak sejalan dengan buku parenting yang berbusa-busa berbicara mengenai bagaimana seharusnya pengasuhan anak yang ideal. Sementara kutengok, banyak anak-anak bau kencur berkendara sesukanya, banyak anak-anak yang duduk berjejer tapi sibuk dengan gadget, entah apa yang disimak. Atau istilah-istilah mengerikan yang dibawa pulang anak gadisku sepulangnya dia dari Musholla. “Pacaran itu apa mi?” Owh pacaran itu sejenis lotek pedes yang dikaretin dua nak… Hanya boleh dibuka kalau sudah dibayar dengan ijab sah.

 

Namun, sejatinya Allah kirimkan umat-Nya untuk terus belajar. Tentang adab bertetangga yang dicontohkan dengan baik oleh beberapa orang. Tentang bapak-bapak yang rajin berangkat ke Masjid setiap masuk waktu sholat. Tentang wanita muslimah yang istiqomah menutup aurat meski hanya menyapu di depan rumah. Tentang ibu-ibu yang begitu sabar dan halus menghadapi buah hatinya. Serta rumah-rumah yang tetap sedap dipandang meski terbatas oleh ukuran. Ini tentang berkaca dan belajar untuk jadi lebih baik. Ini tentang menerapkan ilmu yang didapatkan dan menebarkan kebaikan.

 

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat? Maka mari berdoa, semoga kita dimampukan…

2 Comments
  • Kartika Nugmalia
    Februari 11, 2017

    Amazed…
    Betapa saya juga harus banyak belajar sebagai ibu dari dua anak laki laki dan satu anak perempuan bagaimana menyamakan visi dan misi dengan ayahnya anak anak agar mereka jadi insan bermanfaat kelak. TFS ibu serigala. Love you to the moon and back

    • Destila Dee
      Februari 11, 2017

      Sama mak masih harus byk bgt belajar, love u to mak Aya! :*

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *