Perjalanan Menjadi Manajer Keluarga Terbaik

By Sabtu, Maret 4, 2017 5 No tags Permalink
Advertisement

Jadi istri, ibu, itu ya harus siap jadi manajer yang handal. Kalau tidak? Bisa rusak dunia persilatan. Sejak mengatakan “I do” pada suami kurang lebih enam tahun silam maka suatu kewajiban bagi saya untuk terus berbenah menjadi manajer yang handal bagi keluarga kami.

Selama enam tahun, perjalanan saya sebagai individu, istri, dan ibu persis seperti roalesr coaster. Naik turun naik lagi gitu terus. Adaptasi dengan peran baru, butuh energy yang luar biasa. Sampai sekitar Juni 2016 saya memutuskan untuk membenahi diri, menyusun rencana baru demi meningkatkan kualitas hidup keluarga kecil kami.

Fokus pada prioritas

Selama ini suami menilai saya mengambil begitu banyak kesempatan. Hasilnya? Tidak ada satu pun usaha saya yang berakhir maksimal. Semua hanya sampai pada level rata-rata. Kami diskusi dan membuat keputusan bersama bahwa saya akan meninggalkan semua aktivitas berdagang dan fokus pada pengembangan diri sebagai penulis. Suami ridho saya pun ikhlas. Untuk menindaklanjuti hal ini maka ada beberapa langkah lanjutan yang harus saya lakukan, yaitu :

  • Berhenti jualan

Dulu, saya jualan. Online shop dari tahun 2009 sampai akhirnya sejak tahun 2015 saya mulai menutup satu persatu bisnis yang dulu saya jalani. Kulakan, ambil paket, promosi, packing, kirim barang, COD, dan lain-lain semua saya handle sendiri. Tapi melakukan dua hal penting bersamaan, bisnis dan nulis, itu BIKIN GILA! Akhirnya, saya memilih untuk menunda berdagang. Ridho suami saya adalah karir saya sebagai penulis. Jadi saya akan ambil jalan yang lebih lapang saja. Sebagai istri, apa lagi sih yang lebih utama selain ridho suami.

  • Left WA Group

Pegang hp itu adalah masalah manusia modern jaman sekarang. Dikit-dikit hp, cek chat, ngobrol hal remeh temeh pun via chat. Menghabiskan banyak sekali waktu. Setiap hari saya menghabiskan entah berapa jam hanya untuk cek hp dikit-dikit. Waktu saya buat anak-anak pun tersita. Saya bisa cengengesan gak jelas di depan HP, entah demi apa!

Saya sadar sekali bahwa hidup saya nggak melulu soal eksistensi di dunia maya. Salah satu yang saya anggap menyita waktu adalah jumlah WA group yang saya ikuti. Ada banyak sekali! Setiap hari saya disuguhi ribuan chat yang entah kenapa jadi serasa wajib harus saya baca satu persatu. BIG NO! Saya harus ambil lagi control itu. Hidup saya nggak boleh habis oleh komunikasi yang tidak ada habis-habisnya di dunia per-hape-an.

Maka saya memutuskan untuk meninggalkan beberapa wa group yang selama ini saya anggap cukup banyak menyita perhatian namun tak sejalan dengan fokus yang sudah saya dan suami tentukan. Terutama sih jelas ya, wa group jualan. Baik itu jualan baju, buku, apapun. Berjualan itu meski menyenangkan tapi saya akui menyita begitu banyak waktu yang saya punya. Saya jadi harus banyak cek hp, wa supplier, wa cust, cek ini, cek itu, nanganin komplain. Rasanya luar biasa! Saya kehabisan energy dan waktu untuk anak-anak. Jadi, saya memilih untuk STOP dan MOVE ON!

  • Uninstall sosmed

Ada beberapa sosial media yang akhirnya saya uninstall, juga beberapa aplikasi. Tujuannya? Meluruskan fokus dan sekali lagi, mengontrol waktu berasyik masyuk dengan si hape.

  • Ngeblog Serius

Mengingat saya belum bisa menyesuaikan waktu menulis dengan kegiatan momong anak, suami, dan ngurus rumah. Maka saya memilih blog sebagai media untuk menulis. Ada beberapa kelebihan blog sebagai media menulis. Pertama, tak ada aturan baku. Jadi bebas saja kita mau menulis dengan gaya seperti apapun, asal tidak melanggar hukum agama dan Negara lho yaa…  Kedua, menjadi bloger membantu saya membangun jejaring. Saya bertemu komunitas baru, lingkungan baru, dan wawasan baru. Ketiga, ngeblog membantu saya membangun personal branding sebagai penulis. Keseriusan saya ngeblog saya mulai dengan langkah awal, membeli domain, menjadikan blog saya memiliki status TLD.

Baca juga : Ngeblog Serius, Yuk!

Meningkatkan Potensi Diri

Ketika pertama kali ngeblog saya ngok banget karena banyak sekali hal teknis soal blogging yang susah sekali saya pahami meskipun saya sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk googling. Demi mengurai berbagai hal yang kurang saya pahami saya pun mengagendakan diri untuk bertemu dengan teman-teman yang saya anggap mumpuni. Saya namakan program ini “SABTU BELAJAR”.  Saya juga mewajibkan diri sendiri untuk membaca minimal 5 halaman buku dalam sehari. Kalau hari ini gagal ya besok jadi 10 halaman dst. Saya juga semakin banyak mendatangi majelis ilmu. Tak hanya ilmu dunia, tp juga ilmu akhirat. Mengumpulkan beragam informasi di kemudian hari memudahkan saya untuk kembali memilah mana aktivitas dan ilmu yang akan saya tekuni, mana yang akan saya tunda, dan mana yang akan saya tinggalkan.

IMG-20161112-WA0018

HSMN Jogja, tumbuh bersama, insyaAllah

Menyederhanakan Hidup

Ini serius, PENTING BANGET! Buat saya urusan beberes rumah itu sungguh menyangkut persoalan yang sangat rumit. Kalau diturutin dalam sehari sebagai Irt professional saya bisa menyapu rumah lebih dari sepuluh kali, menyuci piring lebih dari lima kali, dan membereskan mainan anak-anak hingga tak terhitung. Menyita begitu banyak tenaga, waktu, dan emosi. Tapi kalau nggak dikerjakan saya juga bakalan uring-uringan lihat rumah kotor dan berantakan. Untuk mengatasi masalah itu saya mulai melakukan beberapa langkah penting yaitu, yaitu dengan menyederhanakan hidup.

  • Merelease Baju, tas, sepatu, dan printilan lain

Kata suami saya, saya ini mellow. Kebanyakan kenangan! Barang buluk disimpan karena itu dulu mendampingi saat saya susah, atau piring hadiah deterjen ini tinggalannya Mama, atau kartu-kartu press itu kenangan waktu saya masih kerja, bahkan coretan catatan saat masih liputan atau hasil meeting atau surat curhat jaman SMU pun sebagian masih saya simpan. Hasilnya? Saya punya banyak sekali barang tak bermanfaat. Baju misalkan, yang kesempitan pun bingung saya taruh mana. Lalu saya mulai memutuskan untuk merampingkan lemari baju. Baju, sepatu, tas, saya pilah. Mana yang bisa dijual, mana yang harus lungsur jadi alas kaki dan lap pel, serta mana yang harus dibuang. Setelah itu Alhamdulillah lemari saya, kok masih penuh ya sampai sekarang… wakakakakkaaka #missionfailed  . Tapi seriusan, udah ada banyak sekali barang-barang pribadi yang akhirnya saya release dengan suka rela.

Baca juga : Menjual barang Preloved? Bisa! Gini caranya…

  • Menyumbangkan Buku

Nah ini masalah banget juga nih! Jadi setiap pindahan rumah, boks yang terus bertambah dan bikin suami kesel adalah box isi buku. Wakakakakaka. Sudah banyak sih buku-buku yang akhirnya saya sortir, disumbangin atau dibuang (ini untuk majalah lama yang masih banyak banget saya simpan untuk koleksi).

  • Menjual barang-barang yang tidak bermanfaat

Jadi, setelah warung ayam kami ditutup. Saya dan suami punya beberapa barang lebih di rumah. Kaya gallon, gas, dan semacamnya. Barang-barang ini akhirnya menumpuk dan nggak dipake. Menjual barang-barang yang memiliki kontribusi sedikit di dalam aktivitas rumah tangga atau memberikannya pada orang lain menurut saya sih akan jauh meringankan.

 

Membuat Agenda Mingguan dan Harian : Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Kemampuan Manajerial si Mamak Serigala.

Aila Playdate

Aila Playdate

Saya nggak akan share dengan detil disini apa saja agenda mingguan atau harian yang saya buat untuk saya dan anak-anak. Agak riskan aja sih buat saya, merasa kurang aman dan nyaman. Jadi saya hanya akan menjabarkan aktivitas dan estimasi waktu yang saya canangkan dalam satu hari.

Agenda Harian

No Aktivitas Durasi
1 Beberes rumah 2 jam
2 Aktivitas HS Aila 6 jam
3 Me Time (membaca, menulis, browsing) 3 jam
4 Istirahat, family time, dan lain-lain 13 jam

 

Agenda Mingguan

Nama Aktivitas
Aila Kelas Mewarnai
Kelas HS bersama Ummu Zahro
Satu Aktivitas/Hari Bersama Ibu
Playdate insidental
Dee Menulis 2 naskah/hari
Posting blog 2 kali/minggu
Membaca
Koordinasi Event (Insidental)
Taklim dan Kajian

 

Sederhana kan? Saya sadar eksekusinya tidak akan pernah sesederhana itu. Ada banyak detil yang harus dikerjakan dan diperbaiki dari waktu ke waktu. Tapi untuk detilnya, sementara ini biar saya saja ya yang tahu… ^^

5 Comments
  • Grace Melia
    Maret 4, 2017

    Menyederhanakan hidup – quote of the day. Thanks sharingnya, Mak Dee. Ada beberapa poin yang dari kemarin cuman jadi wacanaku, huhu, jadi tergerak lagi setelah baca ini, terutama sumbang buku dan sortir barang yg udah nggak kepake T__T

    • Destila Dee
      Maret 4, 2017

      itu buku sama baju yang sampai sekarang nggak kelar2 mak wakakakaka….

  • Lusi
    Maret 9, 2017

    Penting banget itu menyederhanakan hidup, menyederhanakan urusan tapi tetap keukeuh berkarya. Mama hebat mak Dee.

    • Destila Dee
      Maret 10, 2017

      Mau bangetlah belajar sama Mak Lus biar blognya produktif. Belum berhasil nih atur waktunya hiks…

  • menur
    April 19, 2017

    ya ampun…inspiratif banget dee…pas banget sama masalahku sekarang, berasa kemampuan mencuci piring meningkat 90% dan kemampuan menulis meningkat 10%, tapi baju, buku, dan segala macam printilan memorable tetap 100% hahah… curi idenya ya, semoga manjur untukku 🙂

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *